![]() |
| Suntiang |
Dalam lingkungan adat Padang Pariaman, suntiang gadang menjadi bagian penting dari penampilan anak daro. Hiasan kepala tersebut ditempatkan di atas sanggul dan disusun dengan berbagai ornamen logam. Penggunaan suntiang gadang juga tercatat dalam busana perkawinan masyarakat Padang Pariaman, bersama baju kurung, tokah, kain balapak, serta berbagai perhiasan lainnya.
Suntiang Gadang Padang Pariaman
Suntiang gadang dikenal luas sebagai hiasan kepala pengantin perempuan di Padang Pariaman. Dalam masyarakat setempat, suntiang berkaitan dengan penampilan anak daro dalam rangkaian acara perkawinan. Istilah gadang digunakan untuk membedakannya dari suntiang ketek yang ukurannya lebih kecil dan dapat dikenakan oleh pasumandan atau pendamping pengantin.
Susunan suntiang gadang memiliki bentuk bertingkat. Pada bentuk yang umum dikenal, ornamen bunga disusun dari bagian bawah hingga bagian atas kepala dengan jumlah tingkat ganjil. Susunan tersebut dapat mencapai sebelas tingkat, sedangkan bentuk yang lebih rendah memiliki sekitar tujuh tingkat. Tingkatan ini menjadi salah satu ciri visual yang membuat suntiang gadang berbeda dari hiasan kepala pengantin daerah lain.
Bahan pembuatan suntiang juga mengalami perubahan. Pada bentuk tradisional, hiasan dapat dibuat menggunakan logam seperti tembaga yang kemudian diberi lapisan warna menyerupai emas. Dokumentasi busana pengantin Pariaman juga mencatat suntiang gadang yang terbuat dari tembaga sepuh emas. Dalam penggunaan sekarang, bahan yang lebih ringan seperti aluminium juga banyak ditemukan karena lebih mudah dikenakan dalam acara perkawinan.
Suntiang yang digunakan anak daro tidak berdiri sendiri dalam busana pengantin Padang Pariaman. Pengantin perempuan juga mengenakan baju kurung, tokah yang disilangkan pada bagian dada, serta kain balapak. Rangkaian busana tersebut membuat suntiang menjadi bagian dari keseluruhan pakaian adat, bukan aksesori yang digunakan terpisah dari busana pengantin.
Dalam acara baralek, anak daro dapat mengenakan suntiang ketika menjalani prosesi seperti basandiang. Pakaian pengantin juga dapat digunakan dalam arak-arakan babako, sebuah bagian dari rangkaian perkawinan yang melibatkan keluarga dari pihak bako. Karena itu, pemakaian suntiang berkaitan langsung dengan kegiatan sosial dan adat yang menyertai perkawinan.
Suntiang Solok dan Bentuk Lokal Lain.
Bentuk suntiang di Kabupaten Solok memiliki ciri yang berbeda dari suntiang gadang yang umum terlihat di wilayah pesisir. Suntiang Solok dikenal dengan bentuk yang lebih sederhana dan dominasi warna hitam serta emas. Salah satu unsur yang dikenal pada bentuk ini adalah pisang separak dan kote-kote, yaitu hiasan yang berada di sisi kiri dan kanan kepala.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa hiasan kepala pengantin perempuan Minangkabau berkembang mengikuti lingkungan adat masing-masing. Suntiang tidak hanya mempunyai satu bentuk baku yang digunakan di seluruh wilayah. Kabupaten Solok memiliki ciri tersendiri, sedangkan Padang Pariaman dikenal dengan suntiang gadang yang susunannya lebih tinggi.
Variasi juga ditemukan di Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Lima Puluh Kota. Masyarakat setempat mengenal Suntiang Cikoniang atau Tikoniang sebagai hiasan kepala anak daro. Bentuknya lebih sederhana dan tidak setinggi suntiang gadang yang banyak dikenal di wilayah pesisir seperti Padang dan Pariaman.
Suntiang Cikoniang dibuat melengkung mengikuti bentuk kepala. Ukurannya yang lebih rendah membuat hiasan tersebut memiliki tampilan berbeda ketika dibandingkan dengan suntiang gadang. Kehadiran bentuk seperti ini menunjukkan bahwa identitas busana pengantin di Minangkabau dapat dilihat sampai pada tingkat daerah dan lingkungan adat.
Variasi nama juga muncul pada sejumlah bentuk hiasan kepala perempuan Minangkabau. Dalam dokumentasi kebudayaan dan kajian busana, dikenal istilah seperti suntiang gadang, suntiang ketek, serta beberapa bentuk lokal yang berkembang di wilayah tertentu. Karena itu, penggunaan istilah suntiang untuk semua hiasan kepala perempuan Minangkabau perlu dilihat berdasarkan daerah dan konteks pemakaiannya.
Suntiang dalam Acara Perkawinan.
Penggunaan suntiang paling kuat terlihat dalam konteks perkawinan. Anak daro mengenakan hiasan kepala tersebut ketika tampil sebagai pengantin perempuan dalam acara baralek. Di Padang dan Padang Pariaman, suntiang menjadi salah satu bagian yang langsung dikenali dari busana pengantin perempuan.
Suntiang juga mempunyai hubungan dengan peran sosial perempuan setelah memasuki kehidupan berumah tangga. Dalam konteks adat perkawinan, anak daro tidak lagi tampil sebagai gadis yang belum menikah, tetapi sebagai perempuan yang memasuki kehidupan keluarga. Karena itu, suntiang kerap ditempatkan sebagai bagian dari simbol kebesaran anak daro dalam acara perkawinan.
Bentuk suntiang ketek juga dikenal dalam lingkungan perkawinan. Ukurannya lebih kecil daripada suntiang gadang dan digunakan oleh pasumandan atau pendamping pengantin dalam sejumlah tradisi busana pengantin Minangkabau. Perbedaan ukuran tersebut membuat susunan pengantin dan pendampingnya dapat dibedakan secara visual ketika berada dalam satu acara.
Pemakaian suntiang saat ini juga mengalami penyesuaian. Di Koto Tangah, Kota Padang, misalnya, penggunaan suntiang dalam tata rias pengantin telah memakai bahan yang lebih ringan. Warna hiasan juga tidak selalu menyerupai emas karena tersedia suntiang berwarna perak. Perubahan bahan tersebut berkaitan dengan kenyamanan dan kebutuhan tata rias pengantin masa kini.
Meski bentuknya terus menyesuaikan kebutuhan, suntiang tetap mudah dikenali sebagai bagian dari busana pengantin perempuan Minangkabau. Padang Pariaman mempunyai suntiang gadang yang khas, Solok memiliki bentuk dengan ciri tersendiri, sedangkan Pangkalan Koto Baru mengenal Suntiang Cikoniang. Perbedaan itu memperlihatkan bahwa busana adat Minangkabau tidak berdiri dalam satu bentuk yang seragam.
Bagi masyarakat yang masih menggunakan busana adat dalam baralek, bentuk suntiang sekaligus menjadi penanda daerah dan pilihan tata busana. Dari susunan tinggi suntiang gadang di Padang Pariaman sampai bentuk Cikoniang di Pangkalan Koto Baru, setiap daerah memiliki cara sendiri dalam menampilkan anak daro. Hal itulah yang membuat pembahasan tentang suntiang Minangkabau tidak cukup hanya melihat bentuknya, tetapi juga perlu melihat tempat dan acara ketika hiasan kepala tersebut digunakan (REDAKSI).
