Talempong Minangkabau Berubah dari Musik Tradisi ke Pertunjukan Kreasi Oleh: Hastri Darma Pertiwi
![]() |
| Talempong. |
Talempong terbuat dari logam dan menghasilkan bunyi dari getaran badan alat musik ketika dipukul. Dalam permainan talempong pacik, satu kelompok umumnya memainkan beberapa talempong dengan pola yang saling mengisi.
Teknik tersebut dikenal sebagai interlocking, yakni motif-motif pendek dari beberapa pemain disusun secara bergantian sehingga membentuk rangkaian irama dan melodi. Pola permainan seperti ini menjadi salah satu ciri penting musik talempong tradisional Minangkabau.
Talempong Pacik:
Talempong pacik merupakan salah satu bentuk permainan talempong yang tersebar di berbagai wilayah budaya Minangkabau. Nama dan bentuknya dapat berbeda di sejumlah daerah. Dalam dokumentasi kesenian di wilayah Payakumbuh, misalnya, talempong pacik dikenal pula dengan sebutan talempong renjeang, talempong tujuah, talempong basaua, atau calempong pocik. Perbedaan istilah tersebut menunjukkan bahwa penyebutan talempong tidak selalu sama antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Dalam permainan tradisionalnya, talempong pacik dimainkan sambil dipegang. Dokumentasi mengenai permainan talempong pacik menjelaskan adanya tiga pemain yang masing-masing memegang dua buah talempong dan memainkan pola yang saling bersahutan. Hubungan antarpemain inilah yang membentuk teknik interlocking. Setiap pemain tidak berdiri sendiri karena bunyi yang dihasilkan satu bagian berkaitan dengan bagian lain dalam satu rangkaian musik.
Fungsi talempong pacik juga berkaitan dengan kegiatan masyarakat di berbagai nagari. Di Nagari Aia Tabik, Payakumbuh, misalnya, talempong pacik yang dikenal sebagai talempong sikatuntuang pernah digunakan dalam arak-arakan pesta perkawinan, panen padi, alek nagari, dan perayaan besar lainnya. Praktik tersebut menunjukkan bahwa talempong dapat hadir sebagai bagian dari kegiatan sosial, bukan hanya sebagai pertunjukan musik di atas panggung.
Di Nagari Bungo Tanjuang, Kabupaten Tanah Datar, talempong pacik juga menjadi bagian dari upaya pengenalan kembali musik tradisional kepada generasi muda. Kelompok talempong pacik di nagari tersebut sempat mengalami kemunduran sejak awal 1990-an, kemudian dilakukan pelatihan kepada siswa dan anggota sanggar seni untuk mempelajari teknik dasar serta repertoar seperti Gua Indang dan Gua Tari Piring.
Talempong Unggan.
Selain talempong pacik, Minangkabau memiliki talempong duduak yang salah satu bentuknya berkembang di Nagari Unggan, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung. Masyarakat Unggan mengenal kesenian tersebut dengan sebutan calempong. Alat musik dimainkan dalam posisi diletakkan pada tempat tertentu, berbeda dengan talempong pacik yang dibawa dan dimainkan langsung menggunakan tangan.
Talempong Unggan mempunyai teknik permainan yang berbeda dari talempong pacik. Permainan melodinya menggunakan teknik yang dikenal sebagai teknik kuak, dengan pergerakan kedua tangan dalam memainkan bagian-bagian talempong. Keunikan musikal Talempong Unggan membuat kesenian ini kemudian dipelajari secara akademik di Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Sejak 1993, Talempong Unggan telah menjadi salah satu materi praktik di Program Studi Seni Karawitan ISI Padangpanjang.
Di Nagari Unggan, talempong duduak juga memiliki fungsi dalam kegiatan sosial masyarakat. Dokumentasi mengenai penggunaannya mencatat kehadiran Talempong Unggan dalam acara baralek. Dengan demikian, fungsi talempong di Unggan tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sosial tempat musik tersebut tumbuh dan diwariskan.
Talempong Kreasi dan Talempong Goyang.
Perkembangan talempong mulai memasuki bentuk baru ketika lembaga pendidikan seni di Padangpanjang berkembang. Akademi Seni Karawitan Indonesia atau ASKI Padangpanjang berdiri pada 1966 dan menjadi salah satu lingkungan penting dalam perkembangan bentuk talempong kreasi. Bentuk baru ini kemudian menggunakan susunan nada diatonis dan pengolahan ansambel yang berbeda dari talempong tradisional.
Talempong kreasi kemudian digunakan dalam berbagai kebutuhan pertunjukan. Ansambel ini dapat mengiringi tari kreasi Minangkabau, termasuk Tari Pasambahan, Tari Piriang, dan Tari Payuang. Selain itu, repertoar instrumentalnya dapat mengambil bahan musikal dari lagu tradisional dan dendang Minangkabau seperti Talago Biru, Mudiak Arau, dan Andam Oi. Perkembangan tersebut membuat talempong memiliki ruang baru di panggung pertunjukan seni.
Perubahan berikutnya melahirkan istilah talempong goyang. Bentuk ini berkembang sebagai transformasi dari talempong kreasi dan membawa unsur pertunjukan yang lebih dekat dengan musik populer. Dalam perkembangannya, talempong goyang dapat mengakomodasi lagu tradisional, pop Minang, hingga dangdut. Istilah “goyang” juga berkaitan dengan gerakan tubuh penonton atau penampil ketika mengikuti irama musik.
Perubahan tersebut tidak selalu berlangsung tanpa perdebatan di kalangan pelaku seni. Perkembangan talempong kreasi membuat sebagian fungsi sosial talempong tradisi di sejumlah tempat berkurang, sementara bentuk kreasi justru membuka kesempatan pertunjukan dengan penonton yang lebih luas. Kondisi itu memperlihatkan bahwa perkembangan musik talempong berlangsung melalui proses penyesuaian bentuk, fungsi, dan selera pertunjukan.
Saat ini, pembelajaran talempong juga berlangsung dalam lingkungan pendidikan seni. ISI Padangpanjang, misalnya, memasukkan Talempong Kreasi sebagai salah satu mata kuliah praktik dalam Program Studi Seni Karawitan. Di sisi lain, berbagai karya komposisi baru terus menggunakan talempong sebagai sumber gagasan, termasuk pengembangan repertoar talempong pacik dengan tambahan instrumen seperti canang, gandang katindiak, dan gitar bas.
Perkembangan tersebut membuat talempong memiliki beberapa ruang kehidupan sekaligus. Talempong pacik tetap berkaitan dengan kesenian tradisional di nagari, Talempong Unggan terus dipelajari sebagai bentuk musik khas Nagari Unggan, sementara talempong kreasi dan talempong goyang berkembang dalam pertunjukan dengan susunan musik yang lebih luas. Masing-masing bentuk memiliki konteks dan sejarah perkembangannya sendiri.
Talempong Minangkabau akhirnya tidak berhenti pada satu bentuk permainan. Bunyi talempong yang dahulu hadir dalam arak-arakan dan kegiatan masyarakat juga dapat ditemukan dalam pendidikan seni, pertunjukan tari, komposisi musik baru, hingga pertunjukan populer. Perubahan itu berlangsung dengan tetap menjadikan talempong sebagai salah satu unsur penting dalam musik Minangkabau (redaksi).









