Ngerinya! Kabupaten Puncak Jaya Memanas, Hampir Semua Kantor Pemerintah Dibakar

Iklan

Iklan

HANDI IDUL FITRI

HANDI IDUL FITRI

Rabu, Agustus 12, 2026

Ngerinya! Kabupaten Puncak Jaya Memanas, Hampir Semua Kantor Pemerintah Dibakar

 

Ilustrasi AI.
FAKTAPAGI.COM.Kekerasan di tanah Papua seperti tak berujung. Kali ini lebih mengerikan. Hampir seluruh kantor pemerintah mulai dari kantor bupati, dewan, dinas, rata dengan tanah. Dibakar massa yang kecewa. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, pace!. Kabupaten Puncak, Papua Tengah, kembali menjadi saksi. Selasa malam, 11 Agustus 2026, api menjalar bukan ke satu gedung, melainkan tujuh kantor pemerintahan. Kantor Pemberdayaan Masyarakat Kampung (PMK), Kantor Bupati Puncak, DPRD Puncak, Dukcapil, Kesbangpol, Dinas Sosial, dan Kantor Keuangan terbakar. Satu kendaraan roda empat milik Dinas Ketahanan Pangan ikut menjadi korban.

Ironinya, semua bermula dari sesuatu sangat birokratis, Dana Desa tahap I reguler 2026. Kalau dah cerita duit, memang panas bawaannya, pace.

Sekitar pukul 17.40 WIT, massa mendatangi Kantor PMK. Bupati Puncak Elvis Tabuni datang menemui massa dan mencoba berkomunikasi. Namun sekitar pukul 18.45 WIT, api justru menyala. Kantor PMK dibakar.

Setelah itu, api seperti mendapat daftar alamat. Kantor pemerintahan lainnya menyusul. Begitulah ketika kemarahan kehilangan pintu dialog. Dana desa seharusnya menjadi bahan pembangunan berubah menjadi bahan bakar konflik.

Namun tragedi ini tidak lahir kemarin sore. Pada 2021, Ilaga sudah mengenal kekerasan. Kantor UPBU dan AirNav pernah dibakar. Seorang pekerja bangunan tewas dalam serangan pada Juni tahun itu.

April 2023, empat rumah warga di Kampung Kago dibakar. Juli 2025, Kantor Distrik Omukia dan dua rumah milik Bupati Elvis Tabuni dilaporkan dibakar kelompok bersenjata.

Sekarang, Agustus 2026, kantor bupatinya ikut terbakar. Rumah bupati pernah menjadi sasaran. Kini kantor bupati menyusul. Kalau ini sebuah film, penonton mungkin sudah berteriak, “Sutradaranya siapa?”

Tetapi ini bukan film. Ini tanah tempat manusia benar-benar tinggal. Ini rumah tempat anak-anak benar-benar tidur. Ini kantor tempat negara seharusnya bekerja.

Kabupaten Puncak memang bukan kabupaten baru. Ia berdiri sejak 2008 setelah dimekarkan dari Puncak Jaya. Papua Tengah memang provinsi baru, dibentuk pada 2022. Tetapi umur administrasi ternyata tidak otomatis membuat kekerasan menjadi dewasa.

Pada Oktober 2025, Pansus Kemanusiaan DPR Papua Tengah datang membahas dampak konflik bersenjata di Kabupaten Puncak. Artinya, masalahnya bukan sekadar tujuh gedung yang terbakar. Ada luka panjang di belakangnya. 

Ada ketidakpercayaan. Ada konflik. Ada persoalan pemerintahan. Ada Dana Desa. Ada kelompok bersenjata. Ada masyarakat yang hidup di antara ketakutan dan ketidakpastian.

Lalu muncul pertanyaan terdengar seperti teori konspirasi. Apakah semua ini benar-benar kebetulan berdiri sendiri? Ataukah ada kepentingan diuntungkan ketika pemerintahan kacau, masyarakat marah, dan negara sibuk memadamkan api?

Pertanyaan boleh diajukan. Tuduhan tetap membutuhkan bukti. Sebab jangan sampai api belum padam, tetapi fitnah sudah lebih dulu membakar siapa saja.

Yang menyedihkan, negara sebenarnya punya aparat. Ada program pembangunan. Ada anggaran. Ada pemerintahan. Bahkan ada Operasi Damai Cartenz. Namanya Damai.

Ironinya, di tanah ini damai seperti barang mahal. Semua orang menyebutnya, tetapi tidak semua orang bisa merasakannya. Maka jangan hanya hitung berapa kantor dibakar. Hitung pula berapa banyak kepercayaan ikut menjadi abu. Sebab gedung bisa dibangun kembali.

Meja bisa diganti. Kaca bisa dipasang. Kantor bisa dicat. Tetapi jika rakyat sudah percaya, setiap persoalan akan berakhir dengan api, yang terbakar bukan lagi bangunan. 

Yang terbakar adalah masa depan. Kalau kekerasan terus berulang, Puncak tidak sedang kehilangan kantor. Puncak sedang kehilangan harapan.

Jelang 17 Agustus, ketika bangsa ini sibuk mengibarkan Merah Putih dan meneriakkan kata merdeka, jangan sampai saudara-saudara kita di Puncak justru merasa hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Kemerdekaan, ketika rakyat bisa tidur tanpa takut rumahnya dibakar, bekerja tanpa ancaman, dan menyampaikan kekecewaan tanpa harus menyalakan api. 

Kalau kantor pemerintah terbakar dan kekerasan terus berulang, kita patut bertanya, merdeka untuk siapa, jika rasa aman belum sampai ke tanah Puncak? (Oleh Rosadi Jamani/redaksi).


Diterbitkan: faktapagi.com

Bagikan artikel ini

  
Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar