Bararak dalam Adat Minangkabau Menyatukan Keluarga dan Masyarakat Nagari Oleh: Sasmita Zulianti

Iklan

Iklan

HANDI IDUL FITRI

HANDI IDUL FITRI

Jumat, Oktober 09, 2026

Bararak dalam Adat Minangkabau Menyatukan Keluarga dan Masyarakat Nagari Oleh: Sasmita Zulianti

 

Berarak adalah salah satu adat istiadat pernikahan suku Minangkabau.
FAKTAPAGI.COM.Bararak merupakan tradisi arak-arakan yang dapat dijumpai dalam sejumlah acara adat masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat. Rombongan berjalan bersama dari satu tempat ke tempat lain dengan membawa perlengkapan adat, makanan, atau mengiringi orang yang memiliki peran dalam acara tersebut. Bentuknya berbeda menurut daerah dan kepentingan kegiatan. Di Kota Solok, misalnya, bararak dikenal dalam tradisi baarak bako pada acara pernikahan, sedangkan dalam upacara batagak pangulu, arak-arakan dapat menjadi bagian dari prosesi adat kaum.

Dalam bahasa Minangkabau, kata bararak merujuk pada kegiatan berarak atau berpawai. Rombongan dapat terdiri atas anggota keluarga, kerabat, tokoh adat, dan warga yang ikut meramaikan acara. Sebagian arak-arakan disertai bunyi-bunyian atau membawa perlengkapan tertentu. 

Kehadiran rombongan juga membuat acara adat dapat disaksikan masyarakat di sepanjang jalan yang dilalui.

Bararak tidak memiliki satu bentuk pelaksanaan yang berlaku sama di seluruh Minangkabau. Kebiasaan di Kota Solok dapat berbeda dari yang ditemukan di Kabupaten Tanah Datar, Agam, atau daerah lainnya. Perbedaan tersebut berkaitan dengan adat setempat, jenis acara, serta peran keluarga dan masyarakat yang terlibat.

Baarak Bako dalam Pernikahan

Salah satu bentuk bararak yang dikenal di Sumatera Barat ialah baarak bako. Tradisi ini ditemukan dalam acara pernikahan masyarakat Kota Solok, termasuk di Kelurahan Simpang Rumbio, Kecamatan Lubuk Sikarah. Dalam prosesi tersebut, pihak bako mengarak anak pisangnya menuju rumah tempat pesta pernikahan berlangsung.

Dalam kekerabatan Minangkabau, bako merupakan keluarga dari pihak ayah, sedangkan anak pisang adalah sebutan bagi anak dari saudara laki-laki dalam hubungan tersebut. Hubungan bako dan anak pisang memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan keluarga. Melalui baarak bako, kerabat dari pihak ayah hadir secara langsung untuk memberikan perhatian kepada anak pisang yang sedang melangsungkan pernikahan.

Persiapan baarak bako dapat melibatkan kegiatan memanggil kerabat dan menyiapkan makanan yang akan dibawa dalam arak-arakan. Salah satu bawaan yang dikenal dalam tradisi di Simpang Rumbio ialah nasi kunik atau nasi kunyit. Rombongan juga dapat membawa perlengkapan dan bingkisan lain sesuai kebiasaan keluarga setempat.

Susunan rombongan memiliki peran dalam pelaksanaan prosesi. Di Simpang Rumbio, rombongan dapat dipimpin oleh seseorang yang disebut tuo rarak, kemudian diikuti kedua mempelai dan orang-orang yang membawa bawaan. Dalam pelaksanaan tertentu, ada pula bawaan berupa katidiang bagatang yang berkaitan dengan acara khatam Al-Qur'an. Rincian perlengkapan dan urutannya dapat berbeda sesuai kebiasaan yang berlaku di lingkungan masyarakat.

Setibanya di rumah pengantin, rombongan bako disambut oleh keluarga yang mengadakan perhelatan. Makanan dan bawaan yang dibawa kemudian menjadi bagian dari rangkaian acara. Pertemuan ini memberikan kesempatan bagi kerabat dari pihak ayah untuk berkumpul dan memperlihatkan keterlibatan mereka dalam peristiwa keluarga.

Bararak dalam Batagak Pangulu

Bararak juga dapat dijumpai dalam rangkaian batagak pangulu, yaitu upacara adat untuk mengangkat atau meresmikan seorang pangulu dalam kaum Minangkabau. Pangulu merupakan pemimpin adat yang memiliki tanggung jawab terhadap kaum yang dipimpinnya. Karena itu, batagak pangulu melibatkan hubungan kekerabatan dan unsur adat yang berkaitan dengan kedudukan tersebut.


Dalam salah satu bentuk pelaksanaannya, arak-arakan membawa calon pangulu menuju tempat upacara atau rumah gadang kaum. Rombongan dapat melewati jalan di lingkungan kampung, sehingga masyarakat mengetahui adanya kegiatan adat yang sedang berlangsung. Di sejumlah pelaksanaan, marawa dipasang sebagai penanda kegiatan adat, sementara bunyi talempong dan gendang dapat mengiringi rombongan.

Arak-arakan dalam batagak pangulu memiliki fungsi yang berbeda dari baarak bako. Jika baarak bako berpusat pada hubungan bako dan anak pisang dalam pernikahan, bararak dalam batagak pangulu berkaitan dengan pengukuhan kedudukan adat. Keduanya memperlihatkan bahwa kegiatan berjalan bersama dapat menjadi bagian penting dari prosesi adat, tetapi tujuan dan tata caranya tidak sama.

Keterlibatan masyarakat juga bergantung pada acara yang dilaksanakan. Dalam batagak pangulu, kaum dan kerabat memiliki peran sesuai hubungan adat mereka. Sementara itu, warga yang menyaksikan arak-arakan dapat mengetahui bahwa suatu kegiatan adat sedang berlangsung di lingkungan mereka.

Bararak dan Arak-arakan Si Muntu

Bentuk arak-arakan lain yang dikenal dalam kebudayaan Sumatera Barat ialah arak-arakan Si Muntu. Tradisi ini melibatkan orang-orang yang mengenakan pakaian dari bahan seperti ijuk atau daun pisang kering serta menggunakan topeng. Si Muntu ditemukan dalam sejumlah kegiatan budaya, termasuk alek nagari dan kegiatan yang dikenal sebagai badunia-dunia di beberapa daerah Sumatera Barat.

Tradisi Si Muntu pernah tercatat dalam kehidupan masyarakat Nagari Pematang Panjang, Kabupaten Sijunjung. Bentuk dan pelaksanaannya dapat berbeda menurut daerah. Dalam kegiatan arak-arakan, penampilan orang-orang yang mengenakan kostum dan topeng menjadi bagian yang menarik perhatian warga. Kehadirannya memperlihatkan bahwa arak-arakan dalam kebudayaan Minangkabau tidak selalu berkaitan dengan pernikahan atau upacara kepemimpinan adat.

Bararak, baarak bako, dan arak-arakan Si Muntu sama-sama menghadirkan rombongan yang bergerak bersama, tetapi masing-masing memiliki konteks budaya tersendiri. Karena itu, setiap tradisi perlu dipahami berdasarkan tempat dan acara pelaksanaannya. Menyamakan seluruh bentuk arak-arakan sebagai satu upacara akan mengabaikan perbedaan fungsi yang berkembang di tengah masyarakat.

Di sejumlah nagari, arak-arakan adat juga menjadi kesempatan bagi warga untuk bertemu dan menyaksikan kegiatan bersama. Jalan kampung yang biasanya digunakan untuk aktivitas sehari-hari dapat menjadi bagian dari jalannya prosesi. Kehadiran keluarga, pemangku adat, dan masyarakat membuat kegiatan tersebut berlangsung sebagai peristiwa bersama, bukan hanya urusan orang yang menjadi pusat acara.

Pelaksanaan bararak pada akhirnya mengikuti kebutuhan dan kebiasaan masyarakat setempat. Ada arak-arakan yang mengiringi pengantin, ada yang menyertai pengangkatan pangulu, dan ada pula yang menghadirkan pertunjukan khas seperti Si Muntu. Perbedaan itu dapat dilihat ketika masyarakat menjalankan adat di lingkungan masing-masing. Dengan memahami konteks setiap prosesi, generasi muda dapat mengenali bahwa bararak memiliki beragam bentuk dan peran dalam kehidupan budaya Minangkabau (Redaksi).

Diterbitkan: faktapagi.com

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar