Ukiran Itiak Pulang Patang Menghias Rumah Gadang dengan Bentuk Barisan Itik Oleh: Hastri Darma Pertiwi

Iklan dewan

Iklan dewan

Iklan dewan

Iklan

Iklan

HANDI IDUL FITRI

HANDI IDUL FITRI

Minggu, November 08, 2026

Ukiran Itiak Pulang Patang Menghias Rumah Gadang dengan Bentuk Barisan Itik Oleh: Hastri Darma Pertiwi

Ukiran Itiak Pulang Patang.
SUMATERA BARAT-FAKTAPAGI.COM.Ukiran Itiak Pulang Patang merupakan salah satu ragam hias yang dikenal dalam arsitektur Rumah Gadang Minangkabau. Motif ini mengambil gambaran barisan itik yang berjalan beriringan menuju kandang pada sore hari. Bentuknya tersusun dari pola lengkung yang berulang dan biasanya digunakan untuk mengisi bidang-bidang kecil pada bangunan Rumah Gadang.

Di berbagai Rumah Gadang di Minangkabau, penempatan ukiran tidak dilakukan secara sembarangan. Setiap bagian bangunan memiliki ragam hias yang lazim digunakan, meskipun terdapat perbedaan pada sejumlah daerah. Itiak Pulang Patang termasuk motif yang dapat ditempatkan di bagian dinding dan tepi bidang ukiran, sehingga kehadirannya kerap menyatu dengan motif lain yang lebih besar.

Bentuk Motif yang Terinspirasi dari Itik.

Nama Itiak Pulang Patang berasal dari kebiasaan itik yang berjalan berkelompok. Dalam gambaran yang menjadi dasar motif, kawanan itik bergerak melalui pematang sawah dan kembali ke kandangnya. Barisan tersebut kemudian diterjemahkan oleh pengukir Minangkabau menjadi susunan garis dan lengkungan yang berulang.

Bentuk ukiran Itiak Pulang Patang tidak dibuat menyerupai gambar itik secara utuh. Pengukir menggunakan bentuk stilisasi sehingga yang terlihat adalah pola berulang. Ciri ini sejalan dengan banyak ragam hias Minangkabau yang mengambil inspirasi dari alam, tetapi mengolahnya menjadi bentuk dekoratif pada kayu.

Alam menjadi salah satu sumber utama dalam penciptaan ukiran Minangkabau. Tumbuhan, hewan, dan berbagai bentuk yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari diolah menjadi motif pada Rumah Gadang. Itiak Pulang Patang termasuk kelompok motif yang mengambil inspirasi dari hewan, bersama sejumlah ragam hias lain yang menggunakan nama dan bentuk makhluk hidup.

Dalam adat Minangkabau dikenal ungkapan alam takambang jadi guru. Cara pandang tersebut juga dapat dilihat pada ragam hias bangunan tradisional. Kehidupan itik yang bergerak berkelompok menjadi salah satu gambaran yang kemudian diabadikan dalam bentuk ukiran.

Penempatan pada Bagian Rumah Gadang.

Itiak Pulang Patang dikenal sebagai motif pengisi bidang kecil. Pada Rumah Gadang, motif ini dapat ditemukan pada paso-paso, tangan tangga, pengapit atau les dinding, les plank, serta bagian tepi ukiran yang lebih besar.

Penempatan motif dapat berbeda sesuai bentuk dan tradisi pembangunan Rumah Gadang di suatu daerah. Dalam lingkungan anjuang Rumah Gadang, misalnya, Itiak Pulang Patang dikenal ditempatkan pada bagian paso-paso. Motif ini juga dapat muncul pada dinding atau bagian bangunan lain sebagai pengisi ruang di antara ragam hias utama.

Susunan ukiran pada Rumah Gadang biasanya terdiri atas beberapa motif yang ditempatkan berdampingan. Motif besar dapat menjadi pusat bidang, sedangkan motif seperti Itiak Pulang Patang mengisi bagian pinggir atau bidang yang lebih kecil. Karena itu, satu bangunan Rumah Gadang dapat menampilkan berbagai nama ukiran dalam satu rangkaian dekorasi.

Penempatan ragam hias juga berkaitan dengan pengetahuan para pengukir dan kebiasaan yang berkembang dalam masyarakat. Tidak semua Rumah Gadang memiliki susunan ukiran yang sama. Bentuk bangunan, daerah, dan perkembangan pengerjaan dapat memengaruhi motif yang digunakan pada bagian tertentu.

Selain pada Rumah Gadang, motif Itiak Pulang Patang juga ditemukan pada benda budaya lain. Salah satunya adalah kalintuang, alat yang dipasang pada leher kerbau atau sapi. Kalintuang berbunyi ketika hewan bergerak dan membantu pemilik mengetahui keberadaan ternaknya. Bagian luar benda tersebut dapat dihiasi dengan ukiran, termasuk motif Itiak Pulang Patang.

Gambaran Kebersamaan dalam Motif Itiak Pulang Patang.

Barisan itik yang menjadi inspirasi motif ini sering dikaitkan dengan kehidupan yang teratur dan kebersamaan. Itik berjalan mengikuti kelompoknya, sehingga gambaran tersebut kemudian dikaitkan dengan nilai kesepakatan, seia sekata, dan persatuan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Penafsiran tersebut berkaitan dengan cara masyarakat Minangkabau memandang kehidupan bersama dalam kaum dan nagari. Dalam berbagai urusan adat, musyawarah menjadi bagian penting untuk mencapai kesepakatan. Motif Itiak Pulang Patang menghadirkan gambaran kebersamaan itu melalui bentuk yang sederhana dan berulang.

Nilai keteraturan juga menjadi bagian dari penafsiran terhadap motif ini. Barisan itik yang berjalan searah menggambarkan kelompok yang memiliki tujuan bersama. Namun, ukiran pada Rumah Gadang tetap harus dipahami dalam konteks ragam hias tradisional, karena setiap motif dapat memiliki penafsiran yang berkembang dalam lingkungan budaya Minangkabau.

Penggunaan Itiak Pulang Patang juga tidak berhenti pada bangunan tradisional. Motif ini berkembang pada berbagai media, termasuk dekorasi pelaminan dan produk kerajinan. Bentuk dasarnya dapat mengalami penyesuaian sesuai bahan dan media yang digunakan, sementara susunan pola berulang tetap menjadi ciri yang mudah dikenali.

Di Rumah Gadang, Itiak Pulang Patang menjadi bagian dari keseluruhan bahasa visual yang dibentuk melalui ukiran. Motif ini mungkin hanya mengisi bidang kecil di antara ukiran yang lebih besar, tetapi bentuknya membawa gambaran yang dekat dengan kehidupan masyarakat agraris Minangkabau. Barisan itik di pematang sawah kemudian hadir kembali dalam bentuk ukiran kayu dan terus dikenal sebagai salah satu ragam hias tradisional Minangkabau (REDAKSI).

Diterbitkan: faktapagi.com

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar