![]() |
| Alat musik tradisional masyarakat pesisir Selatan Sumbar (foto istimewa). |
Kesenian ini memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat nagari di kawasan pesisir. Pertunjukan Rabab Pasisia dikenal sebagai hiburan dalam acara perkawinan, perayaan, dan kegiatan adat. Dalam sejumlah kesempatan, pertunjukannya berlangsung hingga larut malam. Penonton mengikuti alur cerita melalui dendang, sementara bunyi gesekan rabab membantu membangun suasana dalam setiap bagian kisah.
Rabab Pasisia dan Tradisi Bakaba
Dalam masyarakat Pesisir Selatan, tradisi bercerita dengan iringan alat musik dikenal melalui istilah bakaba. Kaba sendiri merupakan sastra lisan Minangkabau yang menyampaikan cerita melalui bahasa berirama. Isinya dapat berupa kisah kepahlawanan, penderitaan, perjalanan hidup, persoalan rumah tangga, maupun nasihat yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Rabab Pasisia menjadi salah satu bentuk penyajian tradisi tersebut. Tukang rabab tidak hanya bertugas memainkan alat musik, tetapi juga menyampaikan cerita melalui dendang. Karena itu, kemampuan mengolah suara, memahami alur kaba, dan menguasai permainan musik menjadi bagian penting dalam pertunjukan. Penyaji harus mampu menjaga perhatian penonton agar cerita tetap menarik untuk diikuti.
Alat musik yang digunakan dalam Rabab Pasisia dikenal pula dengan sebutan biola atau babiola oleh masyarakat pendukungnya. Instrumen ini dimainkan dengan cara digesek menggunakan alat penggesek. Dalam perkembangannya, bentuk biola menjadi bagian utama dari identitas musikal Rabab Pasisia. Istilah Rabab Pasisia kemudian semakin dikenal luas sebagai nama kesenian yang berkembang di wilayah Pesisir Selatan.
Dalam pertunjukan, tukang rabab biasanya duduk bersila sambil memainkan instrumennya. Ia mendendangkan teks kaba mengikuti alur cerita. Pada beberapa penyajian, permainan rabab juga dapat disertai instrumen pendukung seperti gandang katindiak, rebana, dan giriang-giriang. Namun, susunan pengiring dapat berbeda menurut kelompok atau lingkungan pertunjukan.
Cerita yang Dibawakan dalam Rabab Pasisia
Kekuatan Rabab Pasisia terletak pada cerita yang disampaikan. Sejumlah kaba lama yang dikenal dalam tradisi ini antara lain Kaba Gombang Patuan, Kaba Magek Manandin, dan Kaba Malin Deman. Cerita-cerita tersebut memiliki tokoh, konflik, serta perjalanan peristiwa yang dikembangkan melalui dendang.
Selain kaba lama, pertunjukan Rabab Pasisia juga berkembang dengan cerita yang lebih dekat dengan persoalan kehidupan sehari-hari. Kisah tentang percintaan, perkawinan yang tidak berjalan sesuai harapan, perselisihan rumah tangga, dan kehidupan di perantauan dapat menjadi materi penceritaan. Perubahan tema tersebut membuat kaba dapat berhubungan dengan pengalaman penonton yang hidup di lingkungan masyarakat Pesisir Selatan.
Salah satu cerita yang dikenal dalam kesenian rabab di daerah ini adalah Kaba Gadih Basanai. Kisah tersebut disajikan melalui dendang yang diiringi permainan rabab. Tokoh dan peristiwa dalam kaba menjadi bahan bagi tukang rabab untuk membangun suasana cerita. Melalui cara penyampaian seperti ini, penonton dapat mengikuti kisah secara bertahap, bukan hanya mendengar rangkaian syair yang berdiri sendiri.
Ada pula repertoar Ratok Sikambang yang dikenal dalam pertunjukan musik biola tradisional Pesisir Selatan. Ratok Sikambang memiliki karakter melodi dan teks yang menggambarkan suasana ratapan. Kisah Sikambang juga dikenal dalam bentuk tari dengan nama Tari Sikambang. Hubungan antara cerita, dendang, dan ekspresi musikal tersebut memperlihatkan bagaimana satu kisah dapat hadir melalui beberapa bentuk kesenian di lingkungan masyarakat setempat.
Rabab Pasisia dalam Kehidupan Masyarakat Pesisir
Rabab Pasisia tumbuh di tengah kehidupan masyarakat nagari di Kabupaten Pesisir Selatan. Wilayah seperti Lengayang dan Nagari Kambang menjadi bagian dari lingkungan masyarakat yang mengenal kesenian ini. Dalam kehidupan sosial, pertunjukan rabab dapat hadir sebagai hiburan pada acara perkawinan, perayaan, maupun kegiatan adat yang melibatkan keluarga dan warga.
Hubungannya dengan masyarakat pesisir dapat dilihat dari cerita-cerita yang berkembang di lingkungan pendukungnya. Pengalaman merantau, hubungan antarkeluarga, persoalan ekonomi, dan kehidupan sehari-hari dapat masuk ke dalam materi kaba. Bagi masyarakat yang hidup di kawasan pesisir, cerita semacam itu memiliki kedekatan dengan pengalaman sosial mereka. Meski demikian, tidak semua kaba Rabab Pasisia bercerita tentang pekerjaan nelayan atau kehidupan laut. Tema penceritaannya jauh lebih luas dan mengikuti cerita yang dibawakan oleh tukang rabab.
Pertunjukan Rabab Pasisia juga dapat berlangsung semalam suntuk, terutama ketika menjadi bagian dari keramaian sebuah alek. Durasi panjang memberi ruang bagi tukang rabab untuk mengembangkan cerita secara bertahap. Penonton yang hadir dapat mengikuti jalannya kaba, menyimak dendang, dan menikmati perubahan suasana yang dibangun melalui permainan musik.
Di wilayah Lengayang, pertunjukan rabab mengalami perkembangan dalam bentuk penyajian dan pilihan gaya musik. Kesenian ini dapat memadukan unsur tradisi dengan gaya populer agar tetap menarik bagi penonton. Perubahan tersebut berkaitan pula dengan kebutuhan seniman untuk mempertahankan pertunjukan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Perkembangan media rekaman turut memperluas penyebaran cerita Rabab Pasisia. Kaba yang sebelumnya lebih banyak dinikmati melalui pertunjukan langsung kemudian dapat didengarkan melalui rekaman. Dengan cara itu, cerita dapat menjangkau pendengar di luar tempat pertunjukan, termasuk masyarakat Pesisir Selatan yang tinggal di perantauan.
Rabab Pasisia memperlihatkan hubungan yang kuat antara musik dan sastra lisan dalam kebudayaan Minangkabau. Alat musik gesek memberikan iringan, sedangkan tukang rabab membawa cerita melalui dendang. Di dalamnya terdapat kisah tentang keluarga, perantauan, hubungan sosial, dan berbagai persoalan manusia yang dekat dengan kehidupan masyarakat Pesisir Selatan. Ketika pertunjukan berlangsung di sebuah alek nagari, cerita-cerita itu kembali hadir di hadapan penonton melalui suara dan alunan rabab (REDAKSI).
