![]() |
| Kue sapik kuliner Rumahan. |
Di Sumatera Barat, kue sapik kerap disiapkan sebagai hidangan untuk menyambut tamu, terutama saat Hari Raya Idulfitri. Di Kabupaten Pesisir Selatan, misalnya, kue ini masih menjadi salah satu sajian Lebaran di rumah-rumah warga. Bahan pembuatannya relatif sederhana, tetapi proses memanggang dan membentuknya membutuhkan ketelitian agar hasilnya tipis, matang merata, dan tidak mudah patah.
Bahan Sederhana dengan Cetakan Khusus.
Bahan utama kue sapik terdiri atas tepung beras, telur, gula pasir, dan santan. Beberapa resep menambahkan bubuk kayu manis untuk memberikan aroma khas. Garam juga digunakan dalam jumlah secukupnya untuk menyeimbangkan rasa manis. Campuran bahan tersebut menghasilkan adonan cair yang dapat dituangkan ke permukaan cetakan.
Tepung beras berperan membentuk tekstur kue setelah dipanggang. Telur membantu menyatukan adonan, sedangkan santan memberikan rasa gurih. Takaran gula dapat disesuaikan dengan selera pembuat. Ada pula variasi yang menggunakan tepung beras hitam sehingga menghasilkan warna kue lebih gelap dibandingkan kue sapik yang dibuat dari beras putih.
Nama sapik berasal dari kata dalam bahasa Minangkabau yang berarti jepit. Penyebutan itu berkaitan langsung dengan alat dan proses pembuatannya. Cetakan kue sapik umumnya terbuat dari logam dan memiliki dua bagian yang dapat dibuka serta ditutup. Permukaan cetakan bisa memiliki pola tertentu yang akan meninggalkan motif pada kue setelah adonan matang.
Cetakan dipanaskan terlebih dahulu sebelum adonan dituangkan. Setelah adonan berada di dalamnya, kedua sisi cetakan dirapatkan agar adonan terpanggang dalam bentuk tipis. Cetakan kemudian diletakkan di atas api dan dibolak-balik supaya panas menyebar. Proses ini harus diperhatikan karena adonan yang terlalu lama terkena panas dapat berubah terlalu gelap atau gosong.
Ketika matang, kue sapik harus segera diangkat dan dibentuk selagi masih panas. Pembuat biasanya melipatnya menjadi bentuk segitiga atau menyerupai kipas. Ada pula variasi yang dibentuk memanjang. Jika dibiarkan terlalu lama setelah keluar dari cetakan, kue akan mengeras sehingga sulit dilipat tanpa patah. Karena itu, tahap pembentukan membutuhkan gerakan cepat dan hati-hati.
Kue Sapik dalam Tradisi Lebaran Masyarakat Minangkabau
Di sejumlah daerah Sumatera Barat, kue sapik menjadi salah satu penganan yang disediakan ketika keluarga menerima tamu saat Lebaran. Kue ini biasanya ditempatkan bersama aneka kue kering lainnya di atas meja ruang tamu. Bentuknya yang ringan dan teksturnya yang renyah membuatnya cocok dinikmati sambil berbincang dengan kerabat maupun tetangga yang datang bersilaturahmi.
Kebiasaan tersebut masih ditemukan di Kabupaten Pesisir Selatan. Di Nagari Koto Taratak, kue sapik menjadi salah satu hidangan yang disiapkan warga untuk menyambut tamu pada Hari Raya Idulfitri. Warga setempat juga mengenal pembuatan kue ini sebagai kebiasaan keluarga yang diwariskan melalui praktik memasak di rumah.
Bahan yang mudah ditemukan membuat kue sapik dapat diproduksi sendiri menjelang hari raya. Keluarga menyiapkan tepung beras, telur, gula, dan santan, kemudian menggunakan cetakan khusus untuk memanggang adonan. Jumlah kue yang dibuat dapat disesuaikan dengan kebutuhan rumah tangga. Sebagian keluarga juga menyiapkannya untuk dibagikan kepada kerabat.
Selain sebagai sajian Lebaran, kue sapik dapat dijumpai dalam berbagai acara keluarga dan perayaan masyarakat. Kue kering ini dapat disuguhkan bersama penganan tradisional lain sesuai kebiasaan daerah masing-masing. Namun, waktu penyajian dan penggunaannya tidak selalu sama di setiap nagari. Karena itu, kebiasaan di satu wilayah tidak dapat langsung dianggap sebagai aturan yang berlaku bagi seluruh masyarakat Minangkabau.
Kue sapik sebagai produk kuliner Rumahan.
Pembuatan kue sapik juga membuka peluang usaha bagi masyarakat yang memproduksi makanan tradisional. Kue ini dapat dijual dalam kemasan untuk kebutuhan rumah tangga, hidangan hari raya, maupun oleh-oleh. Di Kabupaten Pesisir Selatan, kue sapik masih diproduksi warga dengan cara tradisional, termasuk menggunakan cetakan dan proses pemanggangan langsung di atas api.
Dalam skala usaha rumahan, ketepatan proses menjadi hal penting. Pembuat harus menjaga kekentalan adonan, suhu cetakan, serta waktu pemanggangan. Kue yang terlalu tebal bisa menghasilkan tekstur berbeda, sedangkan pemanggangan yang kurang tepat dapat membuat warna dan kerenyahannya tidak merata. Setelah dingin, kue perlu disimpan dalam wadah tertutup agar tidak mudah melempem akibat udara lembap.
Kue sapik juga memiliki variasi bahan dan bentuk. Penggunaan tepung beras hitam menghasilkan warna yang lebih gelap, sementara tambahan kayu manis memberikan aroma yang berbeda. Bentuk lipatan dapat disesuaikan dengan kebiasaan pembuat, meskipun bentuk segitiga dan kipas cukup dikenal dalam penyajian kue ini.
Keberadaan kue sapik di meja Lebaran dan pasar kuliner memperlihatkan bahwa penganan tradisional masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat. Proses pembuatannya memang membutuhkan alat khusus dan ketelitian, tetapi bahan yang digunakan relatif mudah diperoleh. Selama keterampilan membuatnya masih dipraktikkan di rumah maupun dikembangkan sebagai usaha, kue sapik tetap dapat dinikmati oleh generasi berikutnya (REDAKSI).
