![]() |
| sumber foto: npr.org. |
IDF bahkan mengklaim 40 figur penting “dihabisi dalam satu menit”. HRANA melaporkan minimal 133 warga sipil tewas dan 200 luka pada Sabtu. Serangan ke sekolah dasar perempuan di Minab disebut menaikkan angka menjadi 148 tewas dan 95 luka di lokasi itu saja. Total 24 provinsi terdampak, lebih dari 700 orang luka-luka. Ini bukan sekadar serangan presisi, ini seperti mengganti struktur negara dengan palu godam dari langit.
Gelombang 1 Maret melanjutkan simfoni kehancuran. Sekitar 60–70 persen pertahanan udara Iran dilaporkan lumpuh dalam 24 jam pertama. Radar, S-300 Rusia, Bavar-373 lokal, fasilitas rudal, semuanya kena. F-35 Israel bergerak seperti hantu yang tahu titik buta lawan. Tidak ada invasi darat. Filosofinya sederhana, kuasai udara, bikin lawan telanjang, lalu duduk menonton efeknya.
Iran membalas. Sejak Sabtu malam, lebih dari 150 rudal balistik dan drone diluncurkan ke Israel, ratusan lainnya ke target di Teluk. Shahab-3, Ghadr, Fateh-110/313, bahkan Fattah hipersonik disebut ikut tampil. Enam gelombang atau lebih. Sirene menjadi lagu kebangsaan darurat.
Di Israel, korban tewas berkisar 8–11 orang. Magen David Adom menyebut 8 tewas di Beit Shemesh dari satu hantaman langsung ke permukiman, perempuan, anak-anak, lansia. Di Tel Aviv, satu perempuan usia 40-an tewas, satu orang meninggal saat tersedak ketika lari ke shelter. Korban luka 100 hingga 456 orang. Lebih dari 40 gedung rusak di Tel Aviv, Yerusalem, Beit Shemesh, Haifa. IDF mengklaim 85–90 persen rudal dicegat oleh Arrow, David’s Sling, dan Iron Dome. Teknologi pertahanan bekerja seperti cheat code, tetapi satu celah saja cukup untuk tragedi.
Front Teluk ikut bergemuruh. Iran mengklaim menyerang 27 basis di Qatar, UEA, Bahrain, Kuwait, Oman, Arab Saudi, Irak, Yordania. Di UEA, laporan menyebut 1–3 tewas dan 7 hingga 58 luka dari 165 rudal, 541 drone, dan 2 rudal jelajah yang diklaim masuk wilayah mereka. Satu korban adalah warga Asia di Bandara Zayed akibat debris. Ada kebakaran di Jebel Ali, gangguan di sekitar Burj Al Arab dan Etihad Towers.
Kuwait melaporkan 1 tewas dan lebih dari 30 luka. Qatar dan Bahrain mengalami ledakan dan intersepsi, tetapi US Centcom menyebut tidak ada korban tentara Amerika. Korban langsung AS, nol.
Papan skor sementara per 1 Maret siang, Iran lebih dari 200 tewas dan ratusan luka, Israel 8–11 tewas dan ratusan luka, negara Teluk belasan tewas dan puluhan luka, AS nihil korban langsung. Timpang? Jelas. Iran seperti petinju yang menerima pukulan telak di ronde pertama, lalu membalas dengan kombinasi keras tetapi banyak kena blok.
Lalu muncullah aroma konspirasi. Bagaimana 60–70 persen pertahanan udara bisa rontok dalam sehari? Apakah ada sabotase internal? Bocoran intel? Rusia menjanjikan Su-35 dan Verba SAM (500 peluncur, 2.500 rudal) dari kesepakatan Desember 2025, tetapi banyak baru tiba 2027–2029. China memberi CM-302, dukungan BeiDou, komponen drone, tetapi belum mengubah arah badai. Di dalam negeri Iran, empat puluh hari berkabung nasional berjalan berdampingan dengan pesta diam-diam di beberapa kota yang memanfaatkan blackout internet tinggal satu persen normal.
Trump menyebut ini “peace through strength”. Di lapangan, yang terlihat adalah peace through body count. Dunia menonton, harga minyak melonjak karena ancaman Selat Hormuz, dan semua pihak berbicara tentang perdamaian sambil menambah amunisi.
Ini baru hari kedua, wak. Kalau ini film, kita masih di babak pembuka. Plot twist berikutnya bisa lebih gila. Kita semua, suka tidak suka, sedang duduk di bangku penonton sejarah yang sedang menulis dirinya sendiri dengan asap dan angka korban (tar/oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar.
