![]() |
| Foto ilustrasi AI. |
Melainkan makan malam mewah bersama Wakil Perdana Menteri Pertama Rusia, Denis Manturov, lengkap dengan tarian daerah Ambon, Jawa, dan entah daerah mana lagi.
Hutan terbakar, istana menari. Gambut menghitam, meja makan berkilau. Rakyat batuk-batuk, kabinet menyaksikan pertunjukan budaya. Kalau ini bukan ironi, mungkin kamus bahasa Indonesia perlu dibakar sekalian, biar asapnya melengkapi suasana.
Jamuan itu diisi perkenalan anggota kabinet, pidato persahabatan, serta cerita jasa Uni Soviet membantu Indonesia merebut Papua. Wakil Presiden Gibran duduk di kiri Prabowo, Manturov di kanan. Posisi duduk tertata rapi, sayangnya persoalan rakyat belum tentu ikut tertata.
Wartawan menunggu sejak sore di luar Pintu 3. Ponsel dan ajudan dilarang masuk. Seusai acara, para menteri keluar dengan mulut terkunci seperti brankas Bank Indonesia. Hanya Menteri Perumahan Maruarar Sirait sempat berbicara, mengundang Presiden ke acara perumahan November dan Desember. Rumah memang penting, Pak, tetapi bagaimana membangun rumah kalau penghuninya sedang berjuang menghirup udara?
Keesokan harinya, Kepala Bakom Syahganda Nainggolan menjelaskan, “Menjamu Bapak Wakil Perdana Menteri Rusia dan rombongan. Jamuan berupa tarian-tarian daerah. Makan malam.” Ia juga menegaskan acara itu bukan perayaan ulang tahun, meskipun 17 Oktober merupakan hari ulang tahun Presiden.
Netizen X pun meledak. Sebuah unggahan meraup lebih dari 10 ribu suka karena rakyat mengira pemerintah membahas karhutla, kelangkaan BBM, dan ekonomi buruk. Akun lain menulis, “He truly deserves to be impeached.” Marah boleh, wak, tetapi jangan berharap pemakzulan otomatis menjadi alat pemadam kebakaran.
Sementara istana sibuk berdiplomasi, Singapura melalui Menteri Grace Fu dan National Environment Agency mengidentifikasi tujuh perusahaan Indonesia yang dikaitkan dengan kebakaran penyebab udara tidak sehat: PT Bumi Andalas Permai, PT Bumi Mekar Hijau, PT Paramitra Mulia Langgeng, PT Sumatera Alam Anugerah, PT SBA Wood Industries, PT Hutan Lestari Raya, dan PT Bangkanesia.
Mereka menerima Preventive Measure Notices berdasarkan Transboundary Haze Pollution Act, yang memerintahkan pengerahan pemadam, penghentian pembakaran, dan penyerahan rencana aksi. Tiga perusahaan bahkan sudah menjadi perhatian sejak 2015, dengan kasus yang masih terbuka.
Malaysia ikut gerah. Anggota parlemen Lim Guan Eng mengancam menggugat Indonesia untuk menuntut kompensasi jika Jakarta menolak satgas ASEAN permanen. Syed Saddiq mendorong tekanan diplomatik dan finansial, termasuk pemutusan akses pendanaan perusahaan. Namun Menlu Mohamad Hasan memilih diplomasi agar hubungan bilateral tidak rusak.
Begitulah, wak. Di luar negeri, asap menjadi urusan diplomatik. Di dalam negeri, rakyat menunggu tindakan. Singapura mengirim surat, Malaysia mengancam gugatan, sementara istana menyuguhkan tarian dan makan malam.
Jangan-jangan ada teknologi baru bernama diplomasi aromatik. Asap karhutla dibalas aroma hidangan istana, kebakaran dijawab tarian, penderitaan rakyat disuguhi pidato persahabatan.
Tentu menjamu tamu negara bukan dosa. Persahabatan internasional juga penting. Tetapi ketika rumah sendiri kebakaran, bukankah tuan rumah seharusnya sesekali memeriksa dapur yang terbakar?
Rakyat tidak meminta Presiden berhenti menjamu tamu. Rakyat hanya ingin melihat keseriusan sama ketika menghadapi bencana. Sebab, yang terbakar bukan cuma hutan, melainkan kepercayaan.
Kalau asap terus mengepul sementara jawaban pemerintah datang belakangan, jangan heran bila rakyat akhirnya kecewa. Tamu negara pulang membawa kenangan. Rakyat tetap tinggal bersama asap (Rosadi Jamani/red faktapagi.com).
