![]() |
| SPBU Tapang Semadak pembeli antri seperti SPBU lainnya (foto istimewa) |
Dikatakan dia lagi,selain dilarang pemilik kami juga tau aturan bahwa penjualan BBM subsidi tidak boleh pakai Jeriken.
Namun,dalam berita tersebut oknum wartawan hanya melihat ada mobil bawa Jeriken langsung menuduh kami isikan ke Jeriken tersebut.
Karena bisa saja ada warga bawa Jeriken untuk ngisi BBM non subsidi mengunakan Jeriken, jika begitu tentu dibolehkan.
"Kalau BBM subsidi tidak boleh,itu aturannya setau saya," tegasnya.
Lebih lanjut Rusli menceritakan,bahwa beberapa hari yang lalu dia (oknum wartawan) itu mampir ke SPBU, sepertinya setelah sampai dia nelpon, pada saat itu dirinya tidak bawa handphone, karena memang lagi mandi.
Setelah selesai mandi kata dia, baru hubungi lagi, jangan naik berita karena kami tidak ada melakukan apa yang dituduhkan. Kami jual BBM tetap sesuai aturan.
Kemudian selang beberapa lama ada berita di media online, dengan judul." SPBU 64.795.03 Kembali di Sorot Pelanggaran Berulang Dan Manajer Tak Berada di Lokasi".
Menurut dia, dia (oknum wartawan) udah sering kita bantu, jika ada mampir bahkan sebelumnya juga kita bantu semampu kita.
"Bahkan biasanya dia sama kawan- kawan pakai mobil, minta bantu minyak, kita kasi bang,kita bantu," katanya.
Berita yang dia buat kata Rusli lagi,tidak sesuai dengan kondisi lapangan. "Tidak ada pembeli BBM subsidi mengisi Jeriken seperti yang diberitakan media tersebut. Kami selalu ikut aturan," tegasnya.
Bahkan dia juga menuding kami narik biaya parkir,padahal mana kami nagih uang parkir untuk mobil-mobil yang antri.
"Berita itu ngarang tidak sesuai keadaan sebenarnya,"ujarnya (tar/man).
